Pimpin Rapat di Hari WFH, Munafri Arifuddin Tegaskan Komitmen Keluar dari Darurat Sampah

Admin Malabbiri 11 Apr 2026, 20:50 WIB
Bagikan:
Pimpin Rapat di Hari WFH, Munafri Arifuddin Tegaskan Komitmen Keluar dari Darurat Sampah
Pimpin Rapat di Hari WFH, Munafri Arifuddin Tegaskan Komitmen Keluar dari Darurat Sampah

MAKASSAR – Di tengah kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat, Pemerintah Kota Makassar justru mengambil langkah strategis untuk mempercepat pembenahan pengelolaan sampah. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memilih tetap berkantor untuk memimpin langsung koordinasi lintas sektor guna membawa Makassar keluar dari zona darurat sampah.

Dalam rapat koordinasi strategis yang digelar di Balai Kota, Jumat (10/4/2026), bersama Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH-SUMA), Dr. Azri Rasul, Munafri menegaskan bahwa persoalan sampah di kota metropolitan ini memerlukan penanganan yang lebih serius, terukur, dan tidak lagi parsial.

Transformasi dari Open Dumping ke Sanitary Landfill

Salah satu fokus utama Wali Kota adalah melakukan reformasi total di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Munafri secara terbuka mengakui bahwa sistem open dumping yang selama ini diterapkan telah memicu dampak lingkungan yang serius, termasuk meluasnya rembesan limbah lindi hingga ke permukiman warga seluas 17 hektare.

"Kita harus meninggalkan pola lama dan bertransformasi ke sistem sanitary landfill yang lebih terstruktur dan berstandar lingkungan," tegas Munafri.

Tanggung Jawab Lintas Sektor

Munafri menekankan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melainkan tanggung jawab seluruh perangkat daerah. Ia menginstruksikan setiap sektor—mulai dari camat, lurah, hingga pengelola pasar dan rumah sakit—untuk mengambil peran aktif sesuai kewenangannya.

Senada dengan Wali Kota, Dr. Azri Rasul menjelaskan bahwa dalam klasifikasi kota metropolitan dengan volume sampah mencapai 1.000 ton per hari, pemilahan sampah dari sumbernya adalah kunci utama. Menurutnya, pemilahan antara sampah organik dan anorganik dapat menekan drastis volume sampah yang masuk ke TPA.

"Pengelolaan sampah bukan sepenuhnya tugas DLH. Pengelola pasar bertanggung jawab atas sampah di pasar, begitu pula direktur rumah sakit. DLH hadir untuk pendampingan teknis dan edukasi," ujar Azri Rasul.

Optimisme Menuju Kota Bersih

Saat ini, kapasitas pengangkutan sampah di Makassar baru mencapai 67 persen dari total produksi harian. Melalui sinergi lintas sektor dan optimalisasi anggaran Bappeda pada tahun 2026, Munafri optimistis Makassar mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sampah.

Wali Kota juga memberikan apresiasi terhadap berbagai inisiatif warga, seperti penggunaan eco-enzyme dan pengembangan maggot, sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah berkelanjutan.

"Target kita jelas, yaitu menghadirkan tata kelola kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Ini membutuhkan komitmen bersama dan konsistensi dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah," tutup Munafri. (*)

Tags:
Berita Terkini Viral